SEKADAU, KapuasNews.com - Salah satu saksi bisu peninggalan dimasa penjajahan yang hingga saat ini masih berdiri kokoh serta masih difungsikan oleh masyarakat sekitar.
Jembatan penanjung I peninggalan Belanda yang dibangun pada tahun 1938 silam tersebut salah satunya.
Jembatan yang membelah sungai sekadau, kalimantan barat tersebut juga pernah melewati masa suram dengan hendak dihancurkan oleh penjajahan jepang dengan bahan peledak.
Konon ceritanya, proses pembangunan jembatan tersebut telah banyak menelan korban akibat penyiksaan ( kerja Rodi ) pada masa itu.
Apalagi saat ambisi dari penjajah jepang tahun 1944 silam yang berniat menghancurkan segala jenis benda peninggalan yang khususnya yang ada dikabupaten sekadau saat ini.
Tercatat dalam sejarah indonesia, di sekadau memiliki kurang lebih sepuluh jembatan yang dibangun bermaterialkan besi dan kayu pada masa itu.
Seperti yang diungkapkan salah satu tokoh masyarakat, Harjan ( 78 ) mengatakan kalau jembatan tersebut dibangun pada masa penjajahan belanda dengan sistem kerja Rodi yang melibatkan masyarakat dari beberapa daerah seperti Sekadau, sintang, sanggau dan pontianak.
Menghabiskan waktu yang cukup panjang dalam pembangunan jembatan dengan panjang 90 meter tersebut, dan karena berlokasi dikawasan penanjung makanya jembatan tersebut disebut Jembatan penanjung dan pada masa era orde baru juga dibangun jembatan dengan teknologi terbaru sehingga sekarang dikawasan penanjung menyebut jembatan sejarah sebagai jembatan penanjung I dan yang baru sebagai jembatan penanjung 2 dimasa kepemimpinan Rupinus SH M.Si sebagai bupati.
" Jembatan penanjung I tersebit sejak tahun 1997 lalu sudah jarang digunakan, karena sudah ada jembatan baru yang dibangun tahun 1997 juga dimasa kepresidenan Soeharto ". Ujarnya.
Secara historis, jembatan penanjung I tersebut sudah pernah direnovasi dan juga mulai diberlakukan untuk pembatasan muatan yang melintas. Dan bahkan saat ini terpasang sejenis portal akses melintas yang hanya layak untuk kendaraan roda dua saja mengingat sudah termakan usia.
Begitu juga yang diungkapkan Agustami yang saat ini menjabat sebagai kepala desa mungguk mengatakan pemerintahan desa akan terus berkoordinasi terkait pelestarian objek peninggalan sejarah tersebut.
Dikatakannya, meski sudah termakan usia tapi jembatan tersebut masih layak untuk dilintasi motor dan jembatan tersebut juga acap kali di jadikan lokasi selfi bagi masyarakat. Khususnya generasi muda yang aktif mengupload aktivitasnya diberbagai media sosial.
" sejarahnya, jembatan tersebut sempat disebut kawasan mistis tapi sekarang sudah tak ada lagi keraguan bagi masyarakat. Dengan kecanggihan teknologi digital pun para generasi muda berupaya ambil bagian dalam memperkenalkan objek sejarah itu ". Ungkapnya. Sabtu, 21/4/2018.
Agustami pun sangat berharap dengan bertumbuhkannya kepedulian dari setiap masyarakat sehingga objek peninggalan sejarah tersebut untuk dapat terus dilestarikan sebagai tolak ukur perjuangan para pejuang daerah masa itu. ( TIM / Redaksi )




