Bagian 2
Para punggawa pengawasan pelaksanaan pemilu/pilkada pun kian terus memutar otak dalam mengawal proses kampanye meraup simpatik pemilih.
Begitu juga perangkat yang bertugas mendata ulang data pemilih yang berhak serta dengan bertambahnya pemilih pemula. Namun dalam pendataan, tak bisa dipungkiri masih ditemukan data ganda yang harus disesuaikan guna menghindari adanya tindak kecurangan yang berkemungkinan dilakukan oleh oknum yang tidak bertanggungjawab demi memenangkan jagoannya.
Setiap pasangan calon pun terus berupaya memantapkan strategi jitunya yang dinilai belum efektif dimata simpatisan.
Adu program kerja di setiap lini terus dilancarkan bagaikan rudal yang telah siap di luncurkan untuk menghancurkan sasaran, dan tebar janji pun mulai bermunculan untuk meyakinkan kualitas jagoannya.
Tak tanggung-tanggung, belajar dari pemilu / pilkada sebelumnya setiap pasangan calon pun tak segan-segan untuk membuat semacam kontrak politik yang nantinya apakah dikerjakan atau tidaknya, semua tergantung pada kandidat tersebut.
Menyikapi bakal tindak kecurangan tersebut, seluruh jajaran aparat pun mulai bertindak menyusuri setiap penjuru guna fungsi pengawasan. Bahkan, para aparat pun dengan gencarnya melakukan koordinasi dan sosialisasi guna menghindari masyarakat simpatisan atau penyelenggara roda pemerintahan hingga lini terbawah tersandung hukum.
Tak kalah strategi, para tim pemenangan kandidat pun memanfaatkan segala cara untuk memperkenalkan figur jagoannya, mulai dari meluncurkan aplikasi khusus dan memanfaatkan berbagai media sosial ( Medsos ) yang dinilai dapat menyentuh langsung kepada masyarakat karena sesuai kenyataan kalau internet dapat di akses secara global dan tanpa batas.
Sementara itu, retorika gesekan antara masyarakat pun kian mulai terasa karena magnetic dukungan pun semakin melekat. Tarik ulur rangkul dukungan pun semakin keras dengan olahan bahasa yang kian halus mengundanb simpatik. Apalagi dengan paparan program kerja yang kebetulan sesuai dengan kebutuhan masyarakat setempat.
Tak pelak, terkadang satu rumah dalam sebuah keluarga kecil pun acap kali terjadi perseteruan perbedaan pilihan.
Dengan begitu tingginya keoptimisan tersebut, tak heran bila ada suatu wilayah yang akan merasakan dan menjadi korban politik. Karena tak bisa dipungkiri, bagaimana pun kandidat yang terpilih akan tetap memprioritaskan wilayah pemenangannya.
Redaksi KapuasNews.com


