SEKADAU, KapuasNews.com - Dusun perongkan, desa perongkan kecamatan sekadau merupakan salah satu daerah yang di nilai cukup berhasil dalam melahirkan sumber daya manusia yang kompeten.
Tapi dibalik keberhasilan tersebut ternyata hanyalah isapan jempol belaka.
Pasalnya, dengan maraknya pembangunan sebagai wujud program pemerintah dalam penataan wilayah, perongkan hanya bisa sebagai penonton.
Mirisnya lagi, para SDM Kompeten tersebut bagaikan kacang lupa kulit dan seakan tak pernah peduli dengan kampung halamannya.
Kegagalan pembangunan yang di rasakan terbukti dengan buruknya infrastruktur jalan yang merupakan akses vital bagi masyarakat untuk beraktivitas.
Seperti yang diungkapkan kepala dusun perongkan, A. lican mengatakan kalau masyarakat sudah cukup berupaya mengatasi buruknya infrastruktur tersebut. Tapi apa mau di kata, masyarakat juga punya keterbatasan.
Fhoto : kondisi jalan TA 2018 dan jalan rusak
Fhoto : kondisi jalan TA 2018 dan jalan rusak
" Beberapa waktu lalu, dengan segala kerendahan hati salah satu warga ( Paulus Subarno-red ) berupaya memperbaiki jalan yang rusak itu dengan alat berat miliknya tanpa meminta biaya kepada masyarakat. Tapi setelah beberapa waktu terus di lintasi, jalan pun jadi hancur lagi seperti saat ini ". Ungkapnya. Selasa, 13/11/18 saat ditemui di kediamannya.
Menurutnya, hendaknya pemerintah dalam mengeksplore pembangunan ke wilayah pedesaan khususnya untuk lebih efektif, pasalnya beberapa pembangunan yang masuk ke desa perongkan di nilai tidak tepat sasaran.
" Jalan yang bagus malah di kerjakan, sementara jalan yang rusak tak pernah tersentuh pembangunan sama sekali. Kami sebagai warga hanya bisa isap jempol, ada apa dengan pembangunan di perongkan ". Tukasnya.
Begitu juga dengan yang diungkapkan salah satu warga yang melintas, Antonius Kasianus salah satu guru yang bertugas di SDN 19 penepah asal perongkan mengatakan sejak 15 tahun lalu bertugas dan melintas akses tersebut belum pernah merasakan jalan yang layak.
" sejak 15 tahun lalu saya bertugas di penepah, setiap berangkat harus bergumur dengan lumpur sehingga hampir setiap saat harus terlambat sampai ke sekolah. Bahkan, kalau hujan harus absen dari tugas mengajar ". Pungkasnya.
Penulis : R. Hermanto
Redaksi KapuasNews.com



